Jumat, 20 Oktober 2023

12 rangkaian adat dalam pernikahan

1. Mammanu-manu

2. Mappese-pese

3. Massuro/madduta

4. Mapettuada

5. Mappasau botting

6. Mappanre temme

7. Mapacci

8. Mappasili

9. Mappasikarawa

10. Mapparola

11. Massiara 

12. Massita beseng


Mattojang


 Mattojang atau permainan ayunan raksasa, tingginya bisa mencapai 15 meter. Permainan ini tak hanya menjadi ajang ritual pemujaan atau persembahan kepada manusia pertama dalam kepercayaan mitologis Bugis, tapi juga bermakna hiburan dan ajang uji nyali dan keberanian ala Suku Bugis.

Tak heran jika kampung komunitas Bugis yang terpencar di berbagai kabupaten di Pulau Sulawesi hingga ke pulau lain bahkan mancanegara, biasanya lebih mudah dikenal daerah asalnya karena nyali dan keberanian penduduknya bermain ayunan, mattojang juga biasanya dirayakan saat pesta panen rakyat.

Pesta petani pasca panen raya ini tidak hanya dihadiri sederet pejabat kabupaten seperti bupati dan kepala dinas, namun juga dihadiri ribuan warga dari berbagai desa bahkan tetangga kabupaten berkumpul menggelar permainan Mattojang sambil uji nyali dan keberanian.

Tak heran jika pesta panen yang biasanya dimeriahkan dengan permainan Mattojang dan Padendang atau seni menumbuk lesung dengan irama tertentu diikuti dengan tarian dan pertunjukan seni bela diri Pamanca, juga menjadi ajang wisata budaya yang selalu ramai dikunjungi warga serta turis mancanegara.


Angngaru


 Tradisi Angngaru’ yang terun temurun menjadi budaya leluhur bagi suku bugis makassar, sangatlah kental pada masanya. Angngaru ini biasanya dilakukan pada saat penyambutan tamu dan pesta adat seperti pernikahan dan pesta adat lainnya yang bersifat ceremoni. Angngaru berasal dari kata dasar aru, yang artinya adalah sumpah. Jika diartikan, angngaru merupakan ikrar yang diucapkan orang – orang Gowa pada jaman dulu. Tradisi ini biasanya diucapkan oleh abdi raja kepada rajanya, atau sebaliknya, oleh raja kepada rakyatnya.

Sebagai syair tua yang didalamnya terdapat makna filosofi diantaranya prinsip kesungguhan, kerelaan, keihklasan, patriotisme, pantang menyerah, dan pengabdi yang dapat dipercaya serta amanah pada tanggungjawab dalam setiap gubahan syairnya. Aru’ juga diyakini mengandung nilai spiritual, dalam artian Aru’ harus diungkapkan dan dilaksanakan dengan jiwa yang sungguh-sungguh.

Syair Angngaru’ merupakan suatu susunan sastra dalam bahasa Makassar, yang diisi dengan kalimat – kalimat sumpah setia yang penuh keberanian, diucapkan oleh salah seorang tobarani di hadapan Raja. Selain itu, sebagai ritual menyampaiakan simbol jaminan keselamatan dan kenyamanan selama sang tamu yang disambut selama mengunjungi dan berada di tempat tertentu.

Massallo Kawali

 


Masyarakat di Kabupaten Bone memiliki permainan tradisional yang terbilang ekstrem, yakni massallo kawali. Permainan khas Bugis ini kita kenal dengan nama gobak sodor. Bedanya, dalam massallo kawali, para pemain dari tim yang bertahan membawa badik atau kawali.

Permainan tradisional yang berasal dari perang prajurit Kerajaan Bone ini dibawakan oleh dua tim. Setiap tim terdiri atas tiga orang. Tim yang bertahan membawa badik untuk menghalangi pemain dari tim lawan.

Badik yang digunakan oleh para pemain adalah badik asli. Sebelum memulai permainan, dilakukan ritual khusus demi kelancaran atraksi dan untuk menghindarkan peserta serta penonton dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Atraksi khas suku Bugis Bone ini menyimbolkan jiwa patriot para pemuda untuk melindungi atau mempertahankan harga diri dan tanah kelahiran dari ancaman musuh.

Mappadendang

 


Mappadendang dikenal juga sebagai pesta tani adalah sebuah tradisi Bugis dalam mengucap syukur kepada Tuhan atas keberhasilan dalam memanen padi.

Tradisi Mappadendang identik dengan tradisi menumbuk gabah di dalam lesung yang memiliki nilai magis.

Hal ini dilakukan sebagai cara pensucian gabah yang masih terikat dengan batangnya dan terhubung dengan tanah menjadi ase (beras) yang nantinya akan menyatu dengan manusia.


Senin, 02 Oktober 2023

Tari Maggiri atau mabbisu

 


Nama Tarian ini adalah tarian Maggiri. 

Tari Maggiri adalah sebuah tarian khas Bugis yang diperagakan oleh seorang Bissu. Bissu yaitu seorang wanita pria (waria) dalam kepercayaan Bugis yang dipercayakan menjadi penghubung antara dewa di langit dengan manusia biasa.

Bissu dikenal sebagaimana kaum pendeta yang tidak mempunyai golongan gender dalam kepercayaan tradisional Tolotang yang dianut oleh masyarakat Amparita Sidrap, Bugis di Sulawesi Selatan.

Tarian Maggiri sering disebut Mabbissu, karena tarian ini juga diperagakan oleh seorang Bissu hingga kemudian dikenal dengan nama tari Mabbissu.

Tarian Mabbissu menjadi rangkaian penting dari tarian Maggiri yang keberadaannya telah ada sejak zaman pemerintahan Raja Bone ke-1 yang bergelar To Manurung berkuasa dari tahun 1326-1358 M. Tarian Maggiri menjadi salah satu tarian yang berkembang dalam istana Kerajaan Bone ketika itu. 

Tarian Maggiri yang berasal dari suku Bugis ini dikenal juga sebagai tarian mistis. Tarian magis yang diperagakan oleh seorang Bissu sebagian besar terdiri dari kaum laki- laki menjadi ciri khas budaya Bugis.

Sigajang laleng lipa

    





       Sigajang laleng lupa adalah tradisi tarung sarung dalam sarung. Tradisi ini hanya dijalani kaum laki-laki. Jika masalah pribadi tidak ada jalan keluar maka penyelesaiannya dilakukan secara jantan berkelahi hidup mati satu lawan satu dalam sarung. 

     Tradisi sigajang laleng lupa sudah difilmkan pada tahun 2020 yang dibintangi Yayang Ruhian, panji Zoni, dan Maizuri. Tradisi sigajang laleng lupa bermula pada masa kerajaan Bugis dahulu, dan ini merupakan upaya terakhir menyelesaikan sesuatu masalah adat yang tidak bisa di selesaikan walaupun nyawa jadi taruhan, tapi demi harga diri tetap di lakukan.

     Orang Bugis sangat menjaga harkat martabat dirinya. Ada pepatah Bugis  mengatakan " ketika badik telah keluar dari sarungnya pantang diselip di pinggang sebelum terhujam ditubuh lawan ".



Massita besseng